Keluarga Katolik ialah keluarga yang menjadi tanda kehadiran Tuhan yang nyata, mewujudkan sakramentalisasi perkawinan di tengah-tengah masyarakat. Membangun keluarga katolik berarti ikut ambil bagian dalam karya Allah yaitu karya penciptaan dan turut serta memperluas kerajaan Allah di bumi. Keluarga merupakan organisasi terkecil, yang mendasar dalam kehidupan bermasyarakat dan sangat berpengaruh dalam setiap pribadi seseorang, karena di dalam sebuah keluargalah watak dan karakter seseorang terbentuk.
Prinsip Dasar Keluarga Katolik
Salah satu keluarga yang kami (Redaksi TERANG – red) temui untuk berbincang-bincang seputar keluarga Katolik di zaman modern adalah Keluarga Bapak Agustinus Edi Purnomo dan Ibu Isabella Tjandra, dari Lingkungan Elisabeth, Wilayah Gaudensius. Apa yang menjadi dasar bagi mereka untuk menjadi sebuah keluarga Katolik? “Menjadi sebuah keluarga Katolik adalah suatu komitmen untuk memiliki pasangan hidup yang seiman,” jawab Ibu Tjandra. Dengan semakin berkembangnya zaman, ayah 2 putra ini mengatakan bahwa menjadi sebuah keluarga Katolik di zaman modern ini banyak sekali tantangan yang harus dihadapi, dan untuk menghadapi tantangan itu perlu adanya saling pengertian dan keterbukaan di dalam keluarga. “Karena dalam keluarga Katolik itu tidak ada dua, melainkan satu,” begitu Bpk. Edi menjelaskan. Tak lupa pula, mereka juga tentu melibatkan anak dalam membina suatu keluarga, apalagi karena kedua putra Bpk. Edi ini (Oetimus Agung Edo Primus, 21 tahun dan Robertus Andi Wijaya, 17 tahun) sudah menginjak dewasa dan remaja, sehingga mereka pun harus sudah semakin mengerti dan ikut terlibat dalam proses membentuk keluarga Katolik yang harmonis.
Tantangan di Zaman Modern
Lalu bagaimanakah peranan orangtua di keluarga Katolik dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman? Bapak Edi mengatakan untuk menjadi orang tua yang modern mau tidak mau harus menjadi orang tua yang ABG. Apa itu ABG? Sambil tertawa beliau menjawab, “Anak Bapak Gaul! Hahaha…” Maksudnya adalah tentu orangtua yang mengikuti juga perkembangan kemajuan zaman masing-masing anak, namun tetap dengan memberikan batasan-batasannya. Ibu Tjandra juga menambahkan bahwa beliau selalu mengontrol putra-putranya agar tidak terjerumus ke hal-hal yang negatif, apalagi dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin maju, sehingga pengaruh buruk pun lebih mudah masuk. Namun lanjutnya, tidak semua dampak dari perkembangan zaman itu buruk; ada pula dampak dari perkembangan zaman yang membawa pengaruh positif, bahkan sampai mengasah kemampuan dan menambah wawasan. “Seperti putra kedua kami, yang sangat hobi bermain game online, ternyata dari hobinya ini dia banyak mendapatkan pengalaman berkompetisi dan bersosialisasi dengan banyak teman,” jelasnya. Selain ayah dan ibu dengan peranannya sebagai orangtua, tak ketinggalan anak pun sebenarnya memiliki peranan yang sangat penting, dimana peranan ini masing-masing yang akan mendukung berjalannya sebuah keluarga. “Saya berperan sebagai kepala keluarga yang harus mendukung dan mengarahkan anak-anak untuk perkembangan yang lebih baik, dan istri saya sebagai ibu dari anak-anak juga memberikan perlindungan dalam keluarga kami dengan memberikan perhatian dan perawatan, sampai juga pada anak-anak yang ikut berperan,” papar Bapak Edi. Intinya menurut Bapak dan Ibu Edi, sesibuk apapun mereka, keluarga adalah yang utama bagi.
Komunikasi Keluarga di Zaman Modern
Dengan majunya perkembangan zaman, sebenarnya saat ini komunikasi bukanlah hal yang terlalu sulit dilakukan. Banyaknya media/alat komunikasi seyogyanya akan memudahkan proses komunikasi tersebut. Apapun yang ingin kita sampaikan dapat diteruskan dengan adanya komunikasi. “Begitu pentingnya komunikasi dalam keluarga. Komunikasi saat ini dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, dengan media yang lebih beragam,” jelas Pak Edi. Dampak yang paling buruk dengan kurangnya komunikasi dalam keluarga adalah pengaruh hal-hal buruk pada anak atau terjadi miskomunikasi. Oleh karena itu, kontrol dan monitor dari orang tua sangatlah penting dalam hal ini. “Ada baiknya juga sebuah keluarga memberikan sedikit waktu luang untuk berkumpul bersama semua anggota keluarga, karena dari komunikasi yang terjalin, akan ada keterbukaan dan kebersamaan di dalam keluarga,” lanjut beliau. Keluarga yang sering berkumpul secara utuh pun dapat menjadi contoh bagi keluarga lain dalam misi pewartaan kerajaan Allah. Misalnya saja seperti yang dilakukan Bapak Edi dan keluarganya ini. Di berbagai kegiatan lingkungan, mereka selalu menyempatkan diri datang bersama-sama sebagai satu keluarga yang utuh. Bapak Edy mengatakan dengan melibatkan seluruh anggota keluarga, maka hubungan keluarga dapat lebih erat dan sekaligus menjadi contoh bagi keluarga lain untuk melakukan hal yang sama dengan keluarga mereka.
Di akhir wawancara, keluarga Bapak Edi memberikan pandangannya bahwa pada intinya, sebuah keluarga katolik yang ada di zaman modern ini harus mampu menyaring hal-hal yang baik dalam perkembangan zaman. Kita juga harus mampu bersikap dewasa dan memandang secara luas apa itu globalisasi, dan tentu dengan selalu menyertakan sikap waspada pada hal-hal yang dapat merusak keutuhan sebuah keluarga Katolik.
Semoga kita semua dan keluarga kita selalu diberkati sampai pada akhirnya.
Akhirnya sebuah pertanyaan reflektif untuk kita semua, apakah keluarga kita masing-masing sudah siap menjawab tantangan di zaman modern ini?
(AYU & VALENT)




Komentar Terakhir