Teringat masa kecil puluhan tahun yang lalu, karena hidup dalam lingkungan masyarakat yang mayoritas menganut agama kristen/katolik dan sejak kecil dibesarkan dalam alam dan lingkungan keluarga katolik, maka setiap perayaan natal sudah menjadi kebiasaan dan bahkan terkesan “hukumnya” wajib, bahwa semua anggota keluarga ikut misa jam 24.00 tengah malam. Teringat pula, hampir setiap tahun di daerah tersebut Perayaan Natal dirayakan dalam suasana sederhana namun khidmat dalam liturgi!! Kini situasi telah berbeda apalagi perayaan Natal di kota-kota besar, utamanya di kota metropolitan. Terkesan bahwa Natal sudah menjadi peristiwa komersial! Perayaan Natal masih menunggu berminggu-minggu, dan justru waktu yang masih panjang tersebut dipergunakan semaksimal mungkin oleh mal-mal untuk berlomba-lomba mengadakan acara-acara yang bernuansa Natal, diiringi lagu-lagu Natal, dikemas dengan apik untuk menarik para pengunjung, dan tidak ketinggalan ditawarkan pelbagai produk/barang pakaian atau pernik-pernik Natal. Suasana dan situasi tersebut kemudian terkesan menjadi PARADOKSAL, “mengambil alih” makna rohani dari Perayaan Natal, kelahiran Sang Juru Selamat yang telah lahir di kota Daud (bdk. Luk 2). Banyak orang yang kemudian tidak ingat lagi untuk apa mereka (juga kita?) merayakan Natal. Natal kemudian menjadi identik dengan kemewahan dan pesta-pora.
Sungguh menarik mencermati tempat, suasana, dan tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam Injil seputar Kelahiran Yesus. Kita diperkenalkan pada suatu tempat, desa kecil bernama Betlehem yang sebelumnya tidak dikenal saat itu, tetapi sudah diramalkan para nabi, “hai Betlehem Efrata…dari padamu akan bangkit seseorang yang akan memerintah Israel” (bdk MI 5:1; Palungan kandang domba, simbol yang menyegarkan ingatan kita akan keluhan Allah terhadap ke-angkuh-an Israel: “lembu mengenal pemiliknya; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umatKu tidak memahaminya” (bdk.Yes 1:3); para gembala Yahudi yang terpinggirkan; para majus dari timur yang kafir namun percaya pada kedatangan Mesias; Yusuf yang hanya seorang pengrajin kayu; dan Maria seorang wanita lugu sederhana. Sungguh, Yesus datang kedunia dalam keluarga dan lingkungan yang miskin dan sederhana, dalam sebuah kandang, dan para gembala adalah saksi pertama peristiwa itu. Namun justru dalam suasana kemiskinan dan kesederhanaan itu “bersinarlah kemuliaan surga” (bdk. Katekismus art.526). Orang-orang kecil dan sederhana dipergunakan Allah menjadi sarana pernyataan Rahmat Penyelamatan yang menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus!
Dibalik situasi/suasana dan tokoh-tokoh yang ditampilkan Kitab Suci sekitar kelahiran Yesus, tersirat disana pemahaman historis-teologis siapa Yesus itu. Peristiwa Natal merupakan sarana untuk mengenal Identitas Yesus, Anak Allah keturunan Daud yang sekaligus perwujudan sejarah keselamatan manusia. Yesus adalah Anak Allah keturunan Daud, maka Yesus pun disebut anak Daud. Sedangkan Maria yang mengandung dan melahirkan Yesus bukan karena hubungan seksual dengan Yusuf, melainkan karena Daya Cipta Roh Kudus membuat Yesus sungguh Allah. Identitas Yesus ini sekali lagi ditegaskan oleh St. Paulus kepada umat di Roma bahwa “yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud dan menurut Roh Kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah (bdk. Rom 1:3-4). Pernyataan identitas tersebut menjadi bagian dari rencana Allah yang bukan untuk disimpan sebagai milik pribadi, tetapi kabar gembira itu harus dinyatakan dan diwartakan pada semua orang, meskipun ada orang-orang yang menolak kelahirannya dan bersekongkol untuk membunuhnya (bdk Mat 2:3-12). Kelahiran Yesus merupakan perwujudan sejarah keselamatan umat manusia yang telah dimulai dalam sejarah bangsa Israel, masa Perjanjian Lama dan telah berabad-abad diramalkan para nabi, “sungguh seorang perempuan akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia akan menamakan Dia, Imanuel” (bdk. Yes 7:14).
Yesus lahir dalam kesederhanaan dan kemiskinan, merendahkan diriNya, lahir dari “keluarga kecil” tidak terpandang Maria dan Yusuf. Apakah Allah tidak mampu memilih Maria “lain” yang mungkin lebih tinggi derajatnya, sehingga Yesus sebagai Putera Allah dapat memperoleh tempat yang lebih layak untuk dilahirkan? Yang penting untuk dipahami disini adalah bahwa Peristiwa Natal mengandung makna suatu sikap “rendah hati” dan kerelaan untuk “berkorban”; dengan demikian perayaan Natal mengandung arti pula “memberi” dan “berbagi” dengan yang lain; orang harus merendahkan diri, menjadi kecil dan rela untuk “dilahirkan kembali” (bdk. Yoh 3:7). Sebelum kita dapat memberi dan berbagi dengan orang lain, pertama-tama yang harus dilakukan adalah: memberikan diri untuk Tuhan! Yesus datang ke dunia memberikan diriNya untuk manusia; ini mengandung arti bahwa Yesus memberikan dan menawarkan keselamatan bagi manusia yang percaya kepadaNya. Pertanyaan kritis: Apakah kita yang oleh pembaptisan telah dipersatukan dengan Kristus, dalam merayakan Natal sungguh-sungguh telah dijiwai oleh semangat rendah hati, menyerahkan diri seutuhnya untuk dibangun-dibentuk oleh Yesus sendiri sehingga layak dijadikanNya sebagai “alat-sarana” rahmat keselamatan untuk orang lain sehingga semakin banyak orang yang dapat merasakan dan mengalami keselamatan dari Kristus? Atau jangan-jangan oleh karena pengaruh “gaya hidup” kapitalisme, materialisme, hedonisme yang sudah membudaya lalu kemudian kita sulit tergerak hati untuk berkorban dan berbagi dengan orang lain, bahkan dengan saudara kita seiman sekalipun? Padahal disekitar kita begitu banyak saudara-saudara kita termarjinalkan baik secara ekonomis maupun sosial. Diantara mereka banyak yang kesepian, membutuhkan perhatian. Jangankan berbagi dan memberi kepada mereka, berteman dan bersahabat dengan mereka pun sulit kita lakukan karena persahabatan yang kita bangun dan kembangkan adalah persahabatan yang didasarkan pada pertimbangan rasionalitas untung-rugi.
Kesadaran dan kemampuan kita memberikan diri/menyerahkan diri kepada Tuhan , berarti menyerahkan diri untuk dibentuk Tuhan sehingga dijadikan sarana rahmat keselamatan bagi orang lain. Dengan kesadaran tersebut perayaan Natal mestinya memberi inspirasi kepada kita untuk menjadi pelaku aktif (bukan pasif!), dalam pelaksanaan visi dan misi KAJ: pemberdayaan umat basis yang berkualitas! Bila begitu, maka kita layak bergembira sehingga perayaan Natal sungguh membawa sukacita, dan sukacita Natal ini harus diwartakan pada setiap orang yang berkenan pada Allah (Luk 2:11). Warta Natal melampaui sekat-sekat dan batas-batas ekonomi, suku, etnis, bahasa. Peristiwa Natal tidak pernah bergerak secara eksklusif, namun menyebar secara inklusif pada manusia yang berkenan pada Allah.
Perayaan Natal hendaknya mendorong dan memanggil kita menemukan “arti hidup” yang telah dianugerahkan Allah pada kita melalui peristiwa inkarnasi Kristus, Verbum caro vactuam est, Sabda telah menjadi daging (bdk Yoh 1:14). Peristiwa Natal hendaknya mendorong kita untuk menjadi berkat dan sumber inspirasi bagi orang lain. Kita dapat menjadi berkat dan sarana rahmat bagi yang lain bila kita mampu menyingkirkan sifat egoisme dan keangkuhan yang menyandera diri kita, kemudian sekaligus berani membuka diri dan menerima Yesus lahir di hati kita! Bila demikian, kita sungguh layak bersukacita dan menyebarkan warta gembira Natal kepada sesama, gloria in excesis Deo, Selamat Natal…!!! (A. Nutje pondaag)




sontoloyo
…………. terkenang kisaran Natal 2006 lalu, ketika ada yg ngotot bahwa Yesus lahir tidak dikandang domba, melainkan di penginapan …. berkesan terlalu dipaksakan pemahaman seseorang untuk diterima umat sebagai kebenaran …. itu dikotbahkan berapi-api, hanya gerutuku tenggelam di kerongkongan membuatku enggan mengangkat suara lagi ketika koor malam itu …. bahkan palunganpun tidak diperkenankan diletakkan didalam gereja, hanya boleh di bawah pohon Munggur dekat gerbang gereja ….. minggu kemudian, muncul tulisan bernada sama di Berita Paroki ….. wow…. (aku masih menyimpan tulisan itu) ! …. pantas saja, bila orang boleh menafsirkan bebas Yesus lahir dimana saja ….. termasuk di mall-mall … Dihatiku, kupahat palungan tempat berbaring bayi Yesus, semoga Ia tetap berkenan tidur disana … selama Natal ada dalam hidupku ….