
Sabtu, 29 Oktober 2011 lalu, pengurus Seksi Kepemudaan kembali mengadakan misa untuk OMK, dan kali ini dipilihlah tema B.A.T.I.K dengan harapan Orang Muda Katolik khususnya dan juga seluruh umat HSPMTB pada umumnya bisa lebih memiliki rasa nasionalisme. B.A.T.I.K dalam tema ini bukan hanya sekedar arti batik yang sesungguhnya namun juga merupakan suatu singkatan, yaitu “Bagaimana pun Aku Tetap Indonesia, Kamu?”. Banyak OMK yang tidak bangga bahkan lupa bahwa dirinya adalah bangsa Indonesia. Mereka kerap kali pesimis terhadap keadaan Indonesia dan malu mengakui kebangsaanya dan lebih bangga akan ras mereka masing-masing seperti aku Cina, aku Jawa, aku Sunda, aku Batak, dan yang lainnya. Dalam pergaulan sehari-hari pun sadar atau tidak sadar kita kerap membeda-bedakan orang baik berdasarkan ras, pekerjaan, agama, dan berbagai hal lainnya. Beberapa orang tua juga disadari atau tidak memiliki andil dalam memupuk rasa ini dalam diri anaknya, misalnya mereka cuma mengijinkan anaknya mencari pasangan hanya dengan yang satu ras, jika dalam masalah agama tentu itu tidak perlu ditanya sudah sewajarnya orang tua menginginkan anaknya memiliki pasangan yang seagama, namun jika harus sama dalam ras sepertinya itu tidak adil. Melalui misa B.A.T.I.K ini lah diharapkan umat yang mengikutinya bisa sadar bahwa walaupun kita berbeda-beda suku namun kita tetap satu dalam bangsa Indonesia dan kita harus bisa menghargai perbedaan tersebut, “Bagaimana pun Aku Tetap Indonesia, Kamu?”.
Misa dengan tema B.A.T.I.K ini dihadiri oleh banyak orang muda dan juga umat lainnya dan hampir semuanya mengenakan batik sesuai dengan tema misa. Misa ini dipimpin oleh Romo Adrianus Andy Gunardy, Pr., selaku moderator seksi kepemudaan, dan juga dimeriahkan oleh penampilan koor dari sekolah SMA Thomas Aquino dan tata laksana dari wilayah Cicilia. Dalam kotbahnya Romo Andy mengatakan bahwa kita harus saling menghargai satu sama lain walaupun kita berbeda-beda karena semua orang adalah sama di mata Tuhan. Koor mengisi misa ini dengan lagu-lagu bernuansa betawi dan juga batak, petugas persembahan pun menggunakan kebaya sehingga membuat suasana misa semakin semarak. Setelah misa selesai masih ada acara pemutaran film “CINTA” yang bercerita tentang hubungan asmara berbeda budaya dan juga agama. Sambil menikmati film, umat juga dimanjakan dengan kuliner-kuliner tradisional seperti cilok, ketoprak, liang teh, cincau, gulali dan masih banyak lainnya. Akhir kata, terima kasih bagi seluruh umat yang telah berpartisipasi dalam misa ini dan semoga misa OMK yang sederhana ini bisa membuat orang muda Katolik dan umat HSPMTB lebih menghargai segala perbedaan yang ada dan juga lebih mencintai Indonesia melalui hal-hal kecil, serta bangga menjadi bagian dari Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.







Ricky Pareira
mantab bang Admin, lanjutkan